Goresan Tinta Bagi Lembaga Pemasyarakatan Indonesia

Standar

Lembaga Pemasyarakatan (disingkat LP atau LAPAS) adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia, tempat tersebut di sebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu Departemen Kehakiman). Penghuni Lembaga Pemasyarakatan bisa narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga yang statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim. Pegawai negeri sipil yang menangangi pembinaan narapidana dan tahanan di lembaga pemasyarakatan di sebut dengan Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu lebih di kenal dengan istilah sipir penjara.

Konsep pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada tahun 1962, dimana disebutkan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, namun tugas yang jauh lebih berat adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke dalam masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya Sistem Pemasyarakatan mulai dilaksanakan sejak tahun 1964 dengan ditopang oleh UU No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. UU Pemasyarakatan itu menguatkan usaha-usaha untuk mewujudkan suatu sistem Pemasyarakatan yang merupakan tatanan pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan. Dengan mengacu pada pemikiran itu, mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin mengatakan bahwa pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan yang dilakukan oleh negara kepada para narapidana dan tahanan untuk menjadi manusia yang menyadari kesalahannya.

Selanjutnya pembinaan diharapkan agar mereka mampu memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukannya. Kegiatan di dalam LP bukan sekedar untuk menghukum atau menjaga narapidana tetapi mencakup proses pembinaan agar warga binaan menyadari kesalahan dan memperbaiki diri serta tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukan. Dengan demikian jika warga binaan di LP kelak bebas dari hukuman, mereka dapat diterima kembali oleh masyarakat dan lingkungannya dan dapat hidup secara wajar seperti sediakala. Fungsi Pemidanaan tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan yang ada di dalam LP.

Namun kebalikan dari hal tersebut di atas, lembaga pemasyarakatan saat ini sangat jauh berbeda dari tujuan yang diharapkan. Pada tahun 2005, jumlah penghuni LP di Indonesia mencapai 97.671 orang, lebih besar dari kapasitas hunian yang hanya untuk 68.141 orang. Masalah di LP bukan hanya masalah kapasitas dan daya tampungnya saja tapi masalah-masalah pelik dan pembengkokan aturan yang seakan sudah mengakar dan tersistem rapi didalam lembaga yang kita anggap sebagai lembaga koreksi tersebut kini sebagian terungkap atau bagi masyarakat yang menganggap sebagai rahasia umum. Sebagai contoh kasus- kasus seperti transaksi Narkoba dalam LP, fasilitas-fasilitas tertentu dengan mudah didapatkan oleh orang-orang yang berduit atau beruang hingga seperti hotel saja. Belum lagi masalah remisi yang diterapkan secara pilih kasih tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Permasalahan itu selama ini yang menjangkiti lembaga permasyarakatan kita.Sungguh kenyataan yang amat ironis. Kita masih ingat pada awal tahun 2010 ini terkuak kasus narapidana bernama Arthalita Suryani yang menjalani masa hukumannya di blok anggrek Rutan Pondok Bambu, Jakarta yang memiliki ruang karaoke pribadi dalam sel kurungannya berikut fasilitas pendingin udara (AC) dan dilengkapi kulkas beserta 1 set komputer jaringan guna memudahkan aktifitasnya mengontrol kegiatannya di luar rutan melalui internet.

Lembaga Pemasyarakatan juga mendapat kritik atas perlakuan terhadap para narapidana. Pada tahun 2006, hampir 10% diantaranya meninggal dalam lapas. Sebagian besar napi yang meninggal karena telah menderita sakit sebelum masuk penjara, dan ketika dalam penjara kondisi kesehatan mereka semakin parah karena kurangnya perawatan, rendahnya gizi makanan, serta buruknya sanitasi dalam lingkungan penjara. Lapas juga disorot menghadapi persoalan beredarnya obat-obatan terlarang di kalangan napi dan tahanan, serta kelebihan penghuni.

Oleh karena itu menurut pendapat saya sangat perlu dilakukan upaya-upaya pemugaran dan perbaikan sistem atau paling tidak ada evaluasi di Lembaga permasyarakatan Indonesia. Adapun solusi yang bisa direalisasikan dalam upaya perbaikan tersebut antara lain perbaikan sarana dan prasarana oleh pemerintah secara berangsur-angsur diLembaga Pemasyarakatan  baik ruang tahanan, MCK (mandi, cuci, kakus) ataupun peningkatan pengawasan dan keamanan dalam LP harus juga diperbaiki, Perbaikan sarana dan prasarana dimaksudkan untuk meningkatkan kembali mutu LP sebagai badan koreksi, contohnya adalah penambahaan sarana keterampilan bagi narapidanannya sehingga apa yang dilakukan narapidana dapat berguna bagi diri mereka sendiri ataupun bagi orang lain kelak setelah mereka keluar. Sedangkan peningkatan pengawasaan dan keamanan dalam LP dimaksudkan agar tidak ada lagi celah atau kesempataan untuk melakukan hal-hal yang dilarang didalam LP sehingga fungsi LP yang akan membuat narapidana jera dan tidak melakukan kesalahan lagi bisa tercapai. Peningkatan kinerja, kualitas dan moral pegawai LP juga sangat perlu dilakukan agar pengawai LP tidak tergiur dengan penyuapan atau hal-hal lain untuk membantu narapidana melanggar peraturan LP. Solusi- solusi tersebut dilakukan agar tujuan LP sebagai badan koreksi ataupun sebagai pengemban tugas penebusan dosa-dosa didunia bagi mereka yang bersalah bisa tercapai.

Kita bukannya harus berharap saja dan menunggu keajaiban akan datang dengan sendirinya tapi kita juga harus bergerak untuk melakukan perubahan dan perbaikan ini. Kita harus kobarkan semangat perubahan dan gerakan perbaikan agar apa yang kita harapkan nantinya akan tercapai. Semoga goresan tinta yang mungkin tak bernilai ini bisa menyadarkan semua aparat penegak hukum Indonesia dan membuka mata seluruh masyarakat Indonesia. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmatnya kepada kita bangsa Indonesia. FIAT JUSTICIA ROEAT COELOEM!!!!!!!!

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s