Makna dari Sesuatu yang Kecil

Standar

Kemarin aku mengantarkan “some one special” ke gor satria semarang untuk menonton adiknya yang masih berumur 5 tahun dalam lomba drum band antar TK dan SD se-jawa tengah. Kami datang waktu itu sekitar jam 1 siang yang acaranya sudah dimulai sejak jam 11 waktu itu. Setelah membeli tiket langsung masuk dan duduk diatas dekat dengan podium yang ditempati dewan juri. Beberapa saat kemudian setelah jam istirahat selesai, masuklah peserta dari TK tuan rumah yaitu dari kota semarang.

Tidak tahu apa yang aku rasakan ketika 44 anak kecil yang masih berumur sekitar 5 tahun menabuh dan memukul alatnya masing-masing secara bersama-sama dan menciptakan harmoni nada yang tidak asing ditelinga, “oh….ternyata lagu Bunda” pikirku. aku tidak tahu persis yang dirasakan apakah kesedihan,kebanggaan, atau kekecewaan atau bahkan rasa itu campur aduk dalam diriku karena yang pasti saat itu mataku berkaca-kaca, seakan rasa itu begitu menusuk jiwa tapi masih berusaha aku tutupi dari orang lain.

Anak-anak sekecil itu bisa bekerja sama untuk menciptakan harmoni nada yang sangat indah, kepiawaian yang dibalut kekompakan dan sorak sorai penonton yang menyemangati mereka sampai merinding bulu kudukku melihat anak-anak kecil itu bermain dengan cantik. Berbaris membentuk pola yang menarik dan sesekali penari berlarian melewati penabuh perkusi, begitu lincah gerakan dan usaha mereka untuk memenangkan kompetisi itu. Ada rasa iri yang menghinggapiku, kenapa aku tidak bisa seperti itu kekompakan untuk membanggakan sekolah dan kelincahan gerakan, kepiawaian memainkan peran dalam tim untuk berusaha semaksimal mungkin memenangkan sebuah kompetisi. Kebanggaan jadi seperti mereka dan bisa menjadi orangtua mereka.

Aku masih ingat masa kecilku waktu hidup dilingkungan pedesaan di kabupaten indramayu, begitu senangnya melihat pentas drum band dan rasanya waktu itu kubayangkan akulah yang memegang mayoret untuk memimpin pasukan dengan begitu gagahnya, mengatur semua anggota agar dapat bermain maksimal dalam pentas dan bermain hebat. Tetapi ternyata waktu itu aku hanya sekedar membayangkan tidak ada usaha,kesempatan dan cara yang aku lakukan untuk gapai keinginanku itu, sampai sekarang pun aku belum pernah memegang alat drum band terutama tongkat untuk memimpinnya.ha…ha…ha….ha…ha….ha……. (tidak tahu senyum penderitaan/ lucu/ kebanggaan). Mungkin pada waktu itu lingkungan sekolah-sekolahku dari TK sampai SMA kurang mendukung terbukti dengan tidak adanya drum band disekolahku. Itulah mungkin rasa kekecewaanku.

Ketika lagu bunda dialunkan oleh tangan-tangan mungil yang cekatan, aku mulai ingat dengan rasa kangenku untuk bertemu keluarga dikampunng sana. Berkumpul bersama dengan rasa kekeluargaan dan kebersamaan sesekali ada canda disertai dengan gelak tawa yang membahana di Istanaku itu. Entah sudah berapa bulan aku tidak pulang untuk sekedar bertemu dengan mereka atau membantu pekerjaan rumah yang mereka kerjakan. Mungkin aku adalah orang yang tidak berbakti pada orang tua, hanya bisa menghamburkan harta mereka yang didapat dengan susah payah. Kesedihanku begitu terlihat ketika membayangkan sosok ibu yang sudah banyak kukecewakan, pernah suatu waktu pada masa aku duduk di SD kelas 6, aku membolos dengan kawan-kawan hanya untuk ke pasar membeli petasan model baru yang jarang ditemui diwarung-warung petasan pada saat itu dan kebetulan juga ibuku adalah wali kelas 6 di SD dimana aku bersekolah. Ketika kawan-kawanku lebih memilih pulang untuk kabur dari hukuman sekolah, aku dan dua orang kawan lainnya lebih memilih masuk kelas pada saat istirahat kedua. Tiba-tiba beberapa menit setelah aku masuk kekelas yang begitu ribut gara-gara semua kawan lain yang tidak ikut membolos bercerita tentang wali kelas kami marah besar dengan tindakan yang kami lakukan sejak tadi pagi. “aduh gawat…”pikirku, dan tanpa aku sadar dari belakang sudah ada yang memukul kepalaku menggunakan koran yang di gulung, begitu sakit dan pusing dipukul berkali-kali dari kepala sampai badan ini yang ternyata pelakunya adalah wali kelas sekaligus ibuku sendiri. Aku tidak sempat meneteskan airmata karena sudah langsung diusir untuk pulang dan diskorsing beberapa hari. Ya Tuhan!!! Aku tidak sadar apa yang aku lakukan dulu itu menyakiti perasaan ibuku, aku tahu persis apa yang dirasakan ibuku saat itu. Rasa malu dan amarah begitu menyatu dalam diri ibu, rasa malu ketika murid-muridnya membolos apalagi yang mengajak adalah aku yaitu anaknya sendiri, rasa amarah yang dirasakan ibu karena tidak bisa mendidik anaknya yang bandel ini dengan ketulusan dan kelembutan yang dia miliki. Itulah satu dari banyak kenakalanku yang menghiasi kehidupanku, begitu sedih aku membayangkan saat kenakalanku dulu itu tidak bisa dikendalikan, apalagi orang tua yang kukecewakan.

Maafkan aku ibu & ayah, maaf aku belum bisa dibanggakan dan belum bisa jadi anak yang terbaik buat kalian….

About romygumilar

Fajar Romy Gumilar adalah nama lengkapnya, namun biasa dipanggil “Romy”. Putera Asli Indramayu. Orang yang selalu berusaha keras untuk mewujudkan mimpinya. Mencoba menggoreskan tinta untuk bisa masuk dalam sejarah manusia.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s