MAHASISWA SEBAGAI “AGENT OF CORUPT”

Standar

Atas nama sivitas akademika yang menjunjung tinggi TriDharma Perguruan Tinggi. Dibawah payung pendidikan kita berlindung dan diatas kepentingan bangsa serta negara kita berjuang. Sudah lama kita sakit, sakit dalam batin, jiwa dan moral yang selama ini kita junjung tinggi. Dalam sebuah hal yang sepele kita begitu buruk melakukannya dan membuatnya menjadi budaya yang sangat tidak pantas dengan posisi kita sebagai tulang punggung masa depan bangsa dan kemajuan negara.
Artikel ini diilhami dari pengalaman penulis 3 tahun lalu dan beberapa aktivis kampus yang sekarang sedang “on fire” menikmati masa mudanya. Mereka mengeluhkan tentang pajak yang memotong dana dari setiap kegiatan mereka sebesar 15% dari setiap dana yang mereka terima untuk melaksanakan kegiatan, walaupun mereka tidak pernah tahu kemana perginya dana pemotongan itu karena dalam proposal dan LPJ pun mereka tidak boleh cantumkan pajak tersebut oleh birokrat, akibatnya mereka fiktifkan laporan dana dalam proposal maupun LPJ yang dibuat, nota-nota pembayaran hanya sebagai pelengkap yang dicari setelah kegiatan selesai, itupun hanya nota kosong agar bisa disesuaikan dengan harga yang dicantumkan LPJ. Mereka sibuk untuk mencari nota pembayaran agar itu semua sesuai dengan “prosedur” (kata birokrat kampus).
Bukan itu saja, ada lagi intriknya untuk mengeluarkan dana besar dalam suatu kegiatan, mereka disuruh untuk membuat proposal kegiatan yang mencantumkan laporan dana 3x lipat lebih besar dari kebutuhan yang sebenarnya. Misalkan mengadakan seminar nasional, dalam proposal mereka disuruh mencantumkan estimasi dana sebesar 15juta, kemudian setelah dana keluar, dana itu dipotong 15% untuk pajak dan tebak berapa dana yang sebenarnya digunakan dalam seminar nasional tersebut?? Hanya 5juta, Sisanya?? “buat saving agar tidak susah-susah lagi jika mengadakan kegiatan lainnya” kata mereka. LPJ yang mereka buat tetap dengan nilai 15 juta untuk laporan dananya, jadi bisa dibayangkan mereka menggelembungkan dan memanipulasi dana dengan nota-nota fiktif. Anehnya lagi, LPJ itu kadang-kadang dibuat sebelum kegiatan itu dilakukan.
Kebijakan birokrat pun agak aneh, setiap dana yang dikeluarkan untuk proposal yang diajukan hanya setengahnya yang diberikan dari keseluruhan dana dan sisanya akan diberikan setelah adanya LPJ. Jika dilogikakan bahwa dana itu riil dengan kebutuhan yang mereka tanggung dalam kegiatan, mana mungkin mahasiswa menanggung setengah kekurangan dana tersebut?? Sedangkan untuk beli buku dan makan merekapun pas-pasan. Pantas saja digelembungkan dan dimanipulasi sedemikian rupa, walaupun dengan cara dan tujuan yang BAIK menurut mereka, sama saja meracuni dengan sedikit perlahan hingga KORUPSI diDekriminalisasikan dan dilegalkan karena tujuannya BAIK dan wajar.
Jadi jangan aneh jika 5-10 tahun yang akan datang muncul Gayus-Gayus yang baru dalam semua sendi profesi. Ketika mantan aktivis kampus ini ”survival” ditengah-tengah profesinya nanti, mereka akan gunakan ilmu ini untuk kepentingan mereka. Memanipulasi dan menggelembungkan dana yang sudah dipelajari oleh mereka sekarang ini dan akan terus menjadi kebiasaan dalam tingkah laku mereka sehari-hari dan bukan tidak mungkin mereka tularkan ke teman,keluarga, anak dan cucu.
Masihkah bangga dengan kesibukan sebagai mahasiswa aktivis?? Birokrat??? aspirasi mahasiswa selalu ditampung dalam rencana kerja yang diusung dibawah nama BEM,Hima dan lembaga-lembaga kemahasiswaan lainnya. Seakan kita lupa untuk merealisasikannya itu butuh iman yang kuat dan perjuangan-perjuangan yang luar biasa melawan sifat KORUP!!! Dalam sistem ini, dari mark up dana, penggelembungan dana, dan pengambilan keuntungan. Masa depan negara dipertaruhkan, ketika generasi muda menggantikan sistem di negara ini nanti, apakah dengan karakter korup yang melekat.
Selama ini, pendidikan anti korupsi yang diberikan hanya angan-angan, seakan hanya slogan-slogan pemantasan posisi kita sebagai sebagai mahasiswa dalam sistem pendidikan. Kasus korupsi yang diberitakan media dengan gencar kita gunjingkan bersama kawan, dosen bahkan kita buat seminar atas nama antikorupsi. Padahal dalam diri kita sendiri masih ada sifat korup dalam laku dan fikir, seakan kita paling benar dan seakan kita yang paling suci.
Sampai kapankah proses dalam sistem ini berjalan???
Ataukah ini salah satu sistem pengkaderan KORUPTOR yang kita tidak sadari???
Mungkin juga kita sadar!!!!!
Mari bangun perbaiki kembali yang sudah rusak ini dan tanam lagi yang benar, berikan pupuk-pupuk yang steril dari bahan-bahan keserakahan,ketidakadilan, dan sifat Korup. Bersemi, tumbuh subur, dan kita akan tuai hasilnya nanti, ketika kita sudah siap dan ketika bangsa ini membutuhkannya.

7 responses »

  1. …waaaaaa….. :2thumbup buat Romy….

    …nice thread nich Rom….

    …yaaaa… mo gimana lagi Rom…
    kata dosen c… belajar efektif di kelas pas kuliah itu cuma 20%…
    sisanya… 80% di dapet diluar kelas…

    nah… tindakan ini tuh termasuk ke sisa 80% apa ekstrakulikulernya yaaakkk??? hahahhaha… (*mirissss)

    tapiii… ane juga pernah mengalami ke-frustasi-an ini gannn… T.T
    (*kasian yaaaa bonyok aneee… dari kecil udah ngedidik dan ngajarin ane untuk gag boleh bo’ong…berharap gede nya ane jadi anak yg jujur..) (^^)v

  2. trus solusinya apa lha wong kita diajari itu….menurutku itu sama saja melanjutkan budaya yang kamu tulis…konsep apa yang seharusnya dibuat ya jar…mbingungi….hahahahah

  3. betul mas saya juga merasakannya , di kegiatan kampus ataupun di kegiatan lingkungan rumah selalu kalo bikin proposal pasti digelembungin dananya , bener2 ngelatih buat jadi seorang mark up proyek … parah ya …

    salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s